Stok Berkurang: Susut Wajar atau Kehilangan yang Perlu Ditelusuri?

Kepala depo menyesuaikan jumlah stok karena barang rusak, terbuang, atau berbeda dari hitungan, tetapi alasan perubahannya belum ikut menjadi catatan yang dapat diperiksa bersama.

Ilustrasi perubahan dari penyesuaian stok sendiri menuju pengajuan dan pemeriksaan bersama dengan laporan per barang.
Perubahan stok membutuhkan catatan barang, alasan, dan keputusan pemeriksa.

Ilustrasi konseptual. Kasusnya nyata; detail perusahaan disamarkan.

Dalam operasi distribusi bahan pangan segar yang saya tangani bersama tim, kepala depo sebelumnya dapat langsung menyesuaikan persediaan. Barang rusak, barang terbuang, dan selisih hitung sama-sama dapat berakhir sebagai perubahan angka stok. Proses belum menempatkan penjelasan serta bukti per barang dalam alur dengan pemeriksa kedua. Setelah angka berubah, hasil akhirnya tidak cukup untuk menjelaskan mengapa penyesuaian itu diperlukan.

Di sisi Finance, persoalan tersebut terlihat sebagai selisih gabungan antara pembelian dan penjualan. Perusahaan dapat melihat kehilangan pada hasil keseluruhan, tetapi belum mempunyai rincian yang membantu menunjukkan barang mana yang perlu ditelusuri. Akibatnya, pembahasan mudah berhenti pada besarnya selisih. Untuk mencari penyebabnya, tim perlu kembali ke barang, kondisi di depo, dan perubahan yang telah dilakukan pada catatan persediaan.

Ilustrasi petugas menyesuaikan catatan persediaan sendiri di antara rak barang yang berkurang.
Penyesuaian langsung menyatukan pencatatan dan keputusan pada titik yang sama.

Sebagai pemimpin Divisi IT, saya bersama tim menyediakan laporan yang memperlihatkan penyesuaian masuk dan keluar pada barang yang sama. Penyesuaian masuk menambah catatan persediaan, sedangkan penyesuaian keluar menguranginya. Dari laporan ini, tim depo dapat melihat perubahan yang membentuk kekurangan pada barang tertentu. Pembicaraan tentang kehilangan mendapat titik awal yang lebih konkret: nama barang, depo, periode, dan catatan pergerakannya.

Perubahan pembagian wewenang datang dari tim depo sendiri. Perubahan stok sangat sensitif terhadap kehilangan dan barang terbuang, yang berdampak pada kerugian perusahaan dan pada KPI tim depo, jadi mereka memilih kontrol dua orang. Sejak Juli 2026, staf mengajukan penyesuaian beserta alasannya, sementara kepala depo atau supervisor yang bertugas memeriksa dan memutuskan. Untuk penyesuaian masuk, penyesuaian keluar, dan pencatatan barang terbuang, stok baru berubah setelah persetujuan diberikan. Staf menyampaikan keadaan yang ditemui tanpa sekaligus memegang hak untuk langsung mengubah jumlah persediaan.

Pada formulir pengajuan, staf memilih barang, jenis perubahan, jumlah, dan alasan penyesuaiannya. Kepala depo kemudian mempunyai bahan untuk memeriksa apakah perubahan itu sesuai dengan kondisi yang disampaikan. Bila pengajuan belum sesuai, staf memperbaiki bukti dan mengajukannya kembali. Proses ini memisahkan kebutuhan mencatat kondisi lapangan dari keputusan untuk menerapkan perubahan, sehingga koreksi persediaan melewati pemeriksaan sebelum menjadi angka stok yang digunakan operasi.

Ilustrasi penelusuran barang melalui tumpukan laporan dengan kaca pembesar dan bayangan jenis barang.
Angka gabungan perlu diurai sampai ke barang yang membentuk selisihnya.

Untuk pencatatan barang terbuang, staf melampirkan foto kondisi barang. Kepala depo dapat melihat alasan tertulis bersama gambarnya ketika memutuskan pengajuan. Setelah disetujui, catatan menampilkan barang, jumlah, alasan, foto, dan pihak yang menyetujui. Pada alur ini, berkurangnya stok mempunyai konteks yang dapat dibuka kembali. Pemeriksaan tidak hanya berangkat dari angka akhir yang sudah berubah, tetapi juga bahan yang menyertai keputusan penyesuaian.

Laporan Pergerakan Stok menjadi tempat kepala depo dan admin meninjau penyesuaian tersebut bersama pergerakan barang lainnya. Barang yang dibuang mempunyai catatan berbeda dari koreksi jumlah persediaan, sehingga penelusuran diarahkan ke kondisi yang sesuai, bukan memperlakukan seluruh kekurangan sebagai kejadian yang sama.

Lalu bagaimana membedakan susut wajar dari kehilangan? Susut wajar punya batas berupa rasio terhadap berat asli barang. Selama berkurangnya barang masih di dalam rasio itu, ia dianggap susut yang wajar. Kehilangan yang perlu ditelusuri terlihat ketika pengurangan melewati rasio tersebut. Laporan stok memperlihatkan barang yang berkurang beserta perubahan di baliknya; apakah pengurangan itu melewati rasio, dan apa sebabnya, dinilai oleh orang yang memahami operasinya.

Finance memakai rekap pergerakan itu dalam evaluasi bulanan dan sebagai masukan penyusunan laporan keuangan. Rincian per barang memberi hubungan antara keadaan di depo dan pembahasan nilai kehilangan. Tim operasional dapat menelusuri alasan serta kondisi barang, sementara Finance membaca dampaknya pada persediaan. Peran keduanya bertemu pada catatan yang sama, sehingga pembahasan tidak hanya bergantung pada selisih pembelian dan penjualan secara keseluruhan.

Ilustrasi staf memperlihatkan pengajuan penyesuaian kepada kepala depo, dengan laporan per barang pada layar.
Staf menyampaikan kondisi, kepala depo memeriksa, dan hasilnya dapat ditelusuri per barang.

Bagi saya, perubahan pentingnya terletak pada apa yang menyertai angka stok. Pada proses sebelumnya, koreksi dapat selesai saat jumlahnya diperbarui. Dalam alur baru, jenis penyesuaian yang memerlukan persetujuan membawa alasan dan keputusan pemeriksa sebelum diterapkan. Sesudahnya, laporan menyediakan rincian barang untuk evaluasi. Pencatatan dan pembagian tanggung jawab saling melengkapi: tim mempunyai bahan untuk membahas kehilangan serta pihak yang memegang keputusan atas koreksinya.

Pelajaran dari pekerjaan ini: angka stok yang sudah cocok belum tentu menjelaskan ke mana barangnya pergi. Alasan penyesuaian dan pemeriksaan atas barang itulah yang membuat selisih bisa ditelusuri, bukan sekadar ditutup dengan perubahan angka.

Menghadapi masalah serupa? Mari berbicara.